Posts

Showing posts from September, 2019

Berbual dan Membual

Image
Dimuat dalam Harian Pikiran Rakyat , 21 Juli 2019 Berbual-buallah dulu, ya. Saya nak ke dapur sekejap. Begitulah gaya bahasa masyarakat pesisir Riau. Jika diubah ke dalam gaya bahasa yang lebih umum, kalimat itu menjadi, “Kalian mengobrol saja dulu. Saya mau ke dapur sebentar.” Sementara itu, di Malaysia kita dapat menemukan frasa perbualan harian yang mungkin membuat kita mengernyitkan dahi. Ini karena kata bual di Indonesia cenderung berkonotasi negatif. KBBI memang memberikan artian yang cenderung negatif pada lema bual , yaitu ‘omong kosong; cakap besar (kesombongan)’ seperti dalam kalimat Geli hatiku mendengar bual mereka . Namun, kata berbual dalam KBBI bermakna netral atau cenderung positif, yaitu ‘mengobrol, bercakap yang bukan-bukan’ seperti dalam kalimat Kalau sudah berbual, dia lupa akan waktu . Dalam pada itu, KBBI menyamakan kata membual dengan berbual . Padahal, kata membual tidak pernah digunakan dengan maksud ‘mengobrol’. Ini menimbulkan pertanyaan:

Dianggap Terlalu Formal, Padahal Biasa Saja di Tempat Lain

"Kertasnya tidak dikembalikan?" kataku. Sontak satu kelas tertawa. Aku paham. Bagi mereka kalimatku  terlalu formal. Ada kata tidak dan akhiran -kan di situ. Mungkin  akan terdengar normal jika aku berkata, "Kertasnya nggak dibalikin?" Pertanyaannya, apakah semua orang Indonesia bahasa informalnya  seperti itu? Apakah bagi semua orang Indonesia kedua unsur itu terdengar  formal? Kadang ada yang berkata, "Ih, bahasanya kaku banget,  sih." Ada juga dosen yang berkata, "Kita kalau bilang tidak  apa? Nggak . Rasanya ngomong sama dosen pun kita pakai nggak , ya.  Aneh kalau pakai tidak ." Padahal, setidaknya ada dua pengalamanku yang menunjukkan bahwa  kata tidak dan akhiran -kan juga digunakan dalam percakapan  sehari-hari orang Indonesia dan sama sekali tidak terasa aneh bagi penggunanya. Waktu di Yogya, temanku yang orang Gorontalo bertemu dengan  teman-teman SMA-nya. Kebanyakan mereka dari Gorontalo. Selama mereka